Pekerja atau Pekarya?

Kemarin saya baru sempat membaca lagi e-book Pandji Pragiwaksono yang judulnya “Indiepreneur”. Di bagian awal buku tersebut diceritakan dialog antara Bapaknya Pandji dengan rekan kerjanya yang berkebangsaan Jerman, orang Jerman itu bertanya kenapa pengukir kayu jika mengukir bisa presisi, detil dan indah, sedangkan jika ia melihat anak tangga yang dibuat orang Indonesia ga pernah presisi, gak pernah rapi. Bapaknya Pandji menjawab yang bikin ukiran itu berkarya, yang bikin anak tangga itu bekerja.

Saya ingin berbagi cerita tentang buku yang saya baca tersebut. Indonesia terkenal dengan kreatifitasnya. Kesenian yang beragam, kerajinan tangan yang mengagumkan dan pakaian daerah yang beragam indahnya. Kalo mendesak, orang Indonesia paling kreatif menemukan peluang. ga percaya? Coba perhatikan fenomena aturan 3 in 1 yang memunculkan joki-joki dadakan di jalan protokol.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya, kalo emang orang Indonesia itu kreatif, kenapa masih sedikit pengusaha di Indonesia? Indonesia terkenal paling cepat soal mengadaptasi trend, tapi soal memulai nampaknya sejauh ini masih belum ada. Di buku ini Pandji memberikan jawaban kenapa Indonesia yang harusnya kreatif ini kurang rajin dalam berkarya (mulai serius). Pertama, fakta bahwa selama ratusan tahun kita dibiasakan untuk menurut tanpa boleh berpendapat, bekerja tanpa boleh berkarya, mendarah daging dalam diri orang Indonesia. Orang Indonesia sudah diubah budayanya dari budaya berkaya jadi budaya bekerja. Pandji berkata Indonesia kehilangan orang-orang yang berani memulai dari nol ketimbang melakukan pengulangan-pengulangan. Yang bisa mencari jawaban daripada menghafal jawaban. Yang berani ambil resiko dan bukan sekadar cari aman. Yang memiliki visi sendiri bukan bukan mengikuti visi orang lain atau perusahaan tempat Ia bekerja. Indonesia kekurangan orang yang berkarya.

Terus pertanyaannya, apa bedanya bekerja dan berkarya? Pandji menjawab, orang yang bekerja akan melakukan pekerjaan dengan baik karena dia ingin mempertahankan pekerjaannya, karena dia ingin mempertahankan gajinya, karena dia ingin mempertahankan gaya hidupnya. Ada sedikit keterpaksaan di sini.

Orang yang berkarya, akan rela menginvestasikan waktu, tenaga dan bahkan uangnya sendiri, supaya hasilnya bisa memuaskan dirinya. Balik ke orang yang membuat tangga dan ukiran tadi, bayangkan bedanya besaran cinta yang dituangkan dalam apa yang ada di hadapannya. Berkarya tidak harus berkesenian, tidak harus kriya bahkan tidak harus pengusaha. Karyawan perusahaan bisa memilki pola pikir pekarya. Orang seperti ini adalah orang yang mencintai pekerjaannya sehingga untuk orang lain bekerja, bagi dia berkarya. Dia benar-benar tulus ingin hasilnya baik, bukan karena diimingi gaji, bukan ditakuti sanksi.

Jadi, anda pekerja atau pekarya?