Kera Ngalam

Saya jadi ingat ketika saya sekolah dulu, mungkin anda juga pernah merasakannya, pasti menjelang hari raya Idul Fitri, kita mendapat THR dari guru sekolah kita. THR di sini bukan berupa uang loh ya, tapi singkatan dari Tugas Hari Raya. Biasanya tugasnya berupa tulisan kita mengenai pengalaman kita selama liburan. Saya rasa ini merupakan  tradisi di tiap sekolah menjelang Lebaran. Mungkin saat kita sekolah dulu, kita enggan mengerjakannya, entah karena malas menulis atau memang gak ada ide, tapi seiring bertambahnya umur, saya rasa tugas ini jadi menyenangkan. Karena dengan adanya kemajuan teknologi, kita tidak hanya menunjukkan tulisan kita saja, tapi kita juga bisa menunjukkan foto ataupun video kita saat liburan. Ada pepatah:”Sebuah momen legendaris adalah apa yg kamu dan orang – orang lain lihat dan ceritakan.” Selama cuman anda yang lihat, itu hanya perhiasan di dalam peti tersembunyi. Saya rasa cukup basa – basinya, saya akan menceritakan pengalaman saya liburan di kota saya menimba ilmu kuliah dulu, Malang.

Saya memulai perjalanan dari kota Waru, Sidoarjo, daerah ini dekat dengan bandara Juanda yang ada di Surabaya. Saya dan sepupu saya naik motor ke Malang karena mendapat info karena perjalanan nanti akan kena macet, maklum masih suasana mudik. Jam 12 siang kami berangkat, awalnya sih emang gak kena macet ya, tapi setelah melewati tanggul lumpur lapindo, baru keliatan deh lautan mobil yang kena macet. Enaknya naik motor ini kami bisa melipir lewat bahu jalan, bahu jalan ya bukan bahu mantan *eh*. Namun ya namanya macet ya lama juga sampenya. Kami sampai Malang jam setengah 4 sore, itu ditambah istirahat dan mampir – mampir dulu ya. Pantat saya makin tepos duduk di jok motor -__-.

Sampai di Malang saya dan sepupu saya pergi ke pasar burung terlebih dahulu. Di sini saya diajak untuk membeli makanan burung sepupu saya. dia bilang sih dia lagi melihara burung kenari. Setelah selesai membeli makanan burung, kami berdua langsung menuju rumah tante kami untuk beristirahat.

Ternyata emang bener, rumah tante saya dipenuhi burung kenari sepupu saya, ada 6 burung kenari dengan bermacam – macam warna bertengger di sangkarnya. “kenalin anak angkat Kak Denny Jef,” kata sepupu saya. saya pun “kepo”, jadi saya memutuskan untuk melihat cara dia memberi makan. Luar biasa emang anak angkatnya ini, tiap dua hari sekali kenari ini diberi makan buah-buahan dan tiap tiga hari sekali dikasih makan telur puyuh!! Mewah sekali, kalah majikannya.

Saya pun rebahan sambil menunggu malam, konon katanya malang itu bagus pas malam hari, soalnya banyak lampu (yaiyalah masa liat lampu siang bolong). Habis mandi kami meluncur menuju alun-alun kota Batu, niatnya mau makan ketan, ternyata di sana udah pada ngantri! Antriannya kaya orang ngantri sembako, rame banget! Keliatan sih kebanyakan yang mampir bukan orang asli Malang. ketan gak jadi, kami memutuskan untuk ke STMJ 29 di daerah klojen. Nyampe sana eh udah tutup, cobaan apalagi ini Tuhan?! Karena emang kami berdua udah ngidam banget, jadilah STMJ pinggiran kami hajar juga. Rasanya emang beda, tapi ya mau gimana lagi? Abis minum STMJ, mata mulai ngantuk, kami memutuskan untuk pulang, “besok baru kuliner lagi,” kata sepupu saya.

Esoknya sepupu-sepupu saya dan adik-adik saya menyusul ke Malang. jadilah kami bertujuh keliling kota Malang. tujuan pertama kami STMJ 29, iya ini tempat kemarin yang gagal saya kunjungi. Berkaca dari pengalaman kemarin, kami memutuskan untuk datang lebih awal. Setengah delapan malam kami sampai TKP, nagntri sebentar langsung dapat duduk. Tidak lama STMJ kami datang, ada yang unik dengan sendok di sini. Sebagian besar sendoknya rata di ujungnya, kata orang-orang sih karena ngocoknya terlalu bersemangat hehehhe.

stmj-compress

 

 

Setelah STMJ, kami memutuskan untuk mencoba tahu campur yang terletak di jalan MT Haryono. Untuk yang ini tidak ada penampakan fotonya karena kami sudah sibuk dengan makanan masing-masing.

Habis dari tahu campur, kami menuju pos ketan yang ada di alun-alun kota Batu. Antrian masih sama kayak kemarin, tetep ngantri sampai keluar, namun karena kemarin udah gagal, saya pun bertekad untuk menunggu.

pos-ketan-kuliner

Setelah mengantri untuk mengambil nomor pesanan, kami harus menunggu lagi pesanan kami datang. Tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Paling yang berubah orang yang ngantri makin rame.

Setelah menuntaskan misi kuliner, esoknya kami pergi ke museum angkut. Ini termasuk wisata baru di kota Batu. Di sini terdapat berbagai macam transportasi  dari berbagai dunia. Dari kereta api, pesawat sampai mobil ada di sini. Yang lebih keren lagi, ada batmobile di sini! Itu loh mobilnya batman yang sering dipake batman di film. Walau Cuma replika tapi ya menurut saya ini keren hehehe.

 

golden-gate-compress

museum-angkut-compress

 

batmobile-compressTujuan terakhir malam ini adalah paralayang. Di tempat ini biasanya dijadikan tempat para atlet paralayang terbang. Dari sini bisa kelihatan gemerlapnya kota Malang di malam hari, pantesan sepupu saya menyarankan ke sini malam-malam, walaupun dingin tapi pemandangannya emang luar biasa.

paralayang

Selesai foto-foto kamipun memutuskan untuk pulang. Sesuai prediksi kami, pada malam hari pun Malang masih macet. Namun karena kami naik motor, jadi tetep aja lebih cepet hehehe.

Itulah catatan perjalanan saya, maafkan saya yang kurang piknik ini, namun kata orang dulu, kalo udah “kena” sama kota Malang, pasti bakal balik lagi. Well, we’ll see.