Bonsoir!

Kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk menonton film pendek hasil karya anak bangsa, menurut undangan sih salah satu dari 3 film yang diputar itu masuk dalam kompetisi bergengsi di Critic’s Week Festival Film Cannes, festival film paling bergengsi di dunia. FYI festival film ini diadakan di Prancis.

Sejak satu tahun lalu Hivos dan Babibuta FIlm memproduksi tiga buah film pendek yang terkait dengan isu seksualitas, pemberdayaan perempuan dan kuasa.Hivos dan Babibuta Film bekerja sama dengan kedutaan Besar Prancis mengadakan “Nobar” di IFI Kedutaan Prancis Jl. MH Thamrin No 20. Karena ini merupakan pengalaman baru bagi saya dan Dwi, jadilah kami seperti “anak ilang” di sana. Kedutaan Besar Prancis ini jauh dari ekspektasi saya. tempatnya nyaman sekali, sekilas seperti kampus karena banyak spot – spot yang menurut saya “nongkrongable”.

Jam 7 malam ruang auditorium dibuka, para tamu undangan pun masuk satu – persatu. Di dalem suasana bioskopnya pun dapet banget, dari lampu sorot, kursi yang bertingkat dan layar yang lebar, ngeliat panggungnya jadi pengen standup comedy hehehe. Tegok kanan – kiri, sepertinya ada sosok yang gak asing buat saya. ternyata Teh Nia Dinata dan Restu Sinaga ikut menonton film itu!! Gak nyangka ketemu artis, rejeki anak soleh hehehe.

Film pertama yang diputar adalah “Kisah Cinta yang Asu”, film ini dibuat oleh sineas muda asal Jogja, Yosep Anggi Noen. Saya cukup menikmati film pertama ini. Dengan bahasa Jawa yang khas dan lagu tembang Jawa yang menghibur membuat seluruh penonton tidak bosan dibuatnya. Banyak kalimat umpatan yang membuat saya bernostalgia saat saya di Malang dulu.

Film Kedua adalah “Sendiri Diana Sendiri” buatan sineas muda Kamila Andini. Sebagai laki – laki saya pun ngerasa kesel dengan kelakuan suami di film ini. Gimana gak kesel, nih suami udah jarang di rumah, tau – tau mau poligami, gak pake persetujuan istrinya!! Arkkh!! By The Way pemeran Istrinya itu Raihanun, salah satu aktris favorit saya hehehe.. lanjut ke film, setelah terpaksa menyetujui poligami yang dilakukan secara sepihak oleh pihak suami, sang istri pun memilih untuk bekerja. Namun si suami gak suka kalo istrinya kerja terus kumpul bareng teman kerjanya, lah maunya apaan dah nih laki?! Terjadilah konflik malem – malem, sang anak terbangun dan sang istri pun mencoba untuk menidurkan anaknya kembali. Di akhir film menurut saya sangat “menohok” ada adegan di mana Raihanun bertanya kepada anaknya, kira – kira dialognya seperti ini, Raihanun: “Nak, gimana kalo kita gak tinggal sama Papa lagi?”, sang anak menjawab,”terus papa tinggal sama istrinya?”, Raihanun menjawab,” iya, papa tinggal sama istrinya, terus kita tinggal berdua deh, gimana?”. Apa jawaban sang anak? Sang anak jawabnya gini,”bukannya dari dulu kita udah tinggal berdua aja ya mah?” seisi ruangan langsung bergemuruh, gilak ini film, dapet banget emosinya!!

Film ketiga merupakan film yang lolos ke festival film di Prancis, dengan judul “The Fox Exploits the Tiger’s Might” dari Lucky Kuswandi, film ini berlatar belakang jaman orde baru. Di mana terlihat sekali jurang perbedaan antara kaum Tionghoa dan Pribumi. Adegan mendekati akhirnya merupakan adegan favorit saya, di sini saya salut dengan tim make- up artisnya. Beneran bisa ngerubah cewek dari yang cakep banget jadi gak menarik. Daripada penasaran silahkan ditonton sendiri.