Akademi Berbagi Jakarta

Hari Sabtu (9/5/2015), untuk pertama kalinya saya mengikuti kelas Akademi Berbagi. Kali ini temanya adalah Public Lecture, dengan pembicara CEO Detikcom Budiono Darsono dan Editor in Chief & CCO Femina Magazine Petty S Fatimah. Acara ini berlangsung di kantor Microsoft Indonesia, BEI Tower, Jakarta.

Alasan saya datang ke kelas Akber ini, di samping karena pembicaranya yang keren, saya juga ingin “mencuri” ilmu dari kakak-kakak Akber ini, maklum, format Kyutri, unit di Penabulu yang saya jalani hampir sama dengan Akademi Berbagi ini. Sebelumnya saya memang sudah tahu ada Akber sejak kuliah, tapi baru kali ini kesampean ikutan kelas. Ketika saya daftar, peserta sudah ada 40 orang, 40!! Itu beberapa jam setelah @AkberJKT men-tweet soal kelas berbagi ini.

akber

(dari kiri ke kanan) Petty S Fatimah, Budiono Darsono, Ainun Chomsun dan Norman Sasono

Pembicara pertama adalah Budiono Darsono. Mas Budi ini sosok yang lucu, namun di balik sosoknya yang humoris, Sepak terjangnya di dalam dunia online sudah tidak diragukan lagi. Di bawah kepemimpinannya detikcom menjadi pelopor media online dan hingga sekarang menjadi portal berita online nomor 1 di Indonesia.

Dalam kelas Akber kali ini, beliau membagikan kisah awal mula mendirikan detikcom. Awalnya, ia membangun detikcom bersama tiga orang temannya, yaitu Yayan Sopyan, Abdul Rahman dan Didi Nugrahadi. Mereka benar-benar belajar membuat situs sendiri dari nol, dengan banyak membaca buku.

Awalnya mereka membuka jasa pembuatan dan pengelolaan website untuk berbagai klien. Siapa klien pertama mereka? Kompas. Kemudian tercetus ide untuk membuat portal berita yang diberi nama detikcom. Apa yang membuat detikcom berbeda? Selain wujudnya bukan cetak, detikcom menyajikan berita dengan cepat, sangat up to date.

Ketika media online lain mengunggah berita 1 minggu sekali atau 1 hari sekali, detikcom bisa berkali-kali mengunggah berita dalam sehari. Tak lama setelah ada suatu kejadian, beritanya pun akan langsung bisa dibaca di detikcom, walaupun memang beritanya tergolong pendek-pendek.

Awalnya alat komunikasi yang digunakan untuk koordinasi dan menyampaikan berita adalah 4 buah HT. Dengan kegigihan Budiono Darsono dan teman-temannya mengejar serta menyajikan berita yang up to date, pembaca detikcom pun semakin banyak. Tak lama kemudian, ada perusahaan Intel yang memasang iklan di halaman detikcom. Dari sini, pemasukan bertambah dan detikcom bisa merekrut lebih banyak wartawan.

Seiring berjalannya waktu, detikcom pun terus berkembang hingga sekarang. Usai menceritakan kisah detikcom, Pak Budi membagikan poin penting dalam mengembangkan portal berita online, yaitu content, traffic dan revenue.

  1. Content

Kuantitas konten harus terjaga. Semakin banyak konten, maka akan semakin banyak orang yang mengklik situs kita dalam sehari. Misalnya saja di detikcom, dalam sehari artikel yang dimuat bisa ratusan dari dari beberapa tema yang dikembangkan. Selain kuantitas, harus ada pula perbedaan kuat dengan media lain.

  1. Traffic

Ada banyak cara untuk meningkatkan traffic sebuah situs. Sebaiknya sebuah situs didesain sedemikian rupa agar banyak orang yang tertarik untuk berkunjung. Misalnya dibuat kolom komen, forum, dll. Media sosial seperti FB, Twitter dan Instagram juga bisa dimanfaatkan untuk promosi situs yang Anda buat.

  1. Revenue

Pendapatan media online biasanya diperoleh dari iklan. Jika traffic semakin tinggi, semakin banyak pihak yang ingin memasang iklan. Jika setiap membuka halaman portal berita online yang menjadi berat karena kebanyakan iklan, harap dimaklumi saja. Selain iklan, bisa juga ada pemasukan lain dari program yang terlaksana dengan kerjasama sponsor.

Setelah Pak Budi selesai berbagi kisah, pembicara yang kedua, yaitu Petty S Fatimah dari Femina lanjut bercerita tentang berbagai hal. Salah satunya adalah community development program. Ada riset yang harus dilakukan untuk mengetahui apa yang menjadi tren di masyarakat. Selain riset, bisa juga terjun langsung ke lapangan untuk mengecek langsung. Petty mengatakan bahwa apa yang terbaca di riset juga bisa berbeda dengan apa yang beredar di masyarakat.